Menyalip di Tikungan

Convid-19 memicu krisis di seluruh dunia, meski 2015 sudah ada warning akan terjadinya krisis. Semua orang tidak menyangka akan terjadi situasi yg membuat ekonomi berguncang hebat. Lockdown terpaksa dilakukan untuk mencegah penyebaran corona, semua orang harus mematuhi atau kematian menjadi ancaman. Ketakutan terjadi dan otomatis transaksi uang merosot tajam, tentu sangat tidak mudah merubah kebiasaan semua orang.

Tapi WFH atau work from home memaksa siapapun di seluruh dunia menciptakan rutinitas baru. Mendadak semua keluarga harus berkumpul di rumah, tidak perlu ke kantor, tidak perlu jalan-jalan ke mall, tidak perlu ke sekolah, semua kegiatan disesuaikan. Perilaku baru tercipta, masak di rumah jadi lebih sering, pesan apapun lewat delivery, komunikasi by online, semua hal berubah.

UKM bahkan UMKM menjadi punya banyak teman lagi, banyak perusahaan pusing menghadapi situasi. Perusahaan besar mulai berguguran, tekanan ekonomi tidak mudah diatasi apalagi transaksi menurun drastis. Karyawan mulai resah, meski ketika harus terjadi PHK pun tidak ada yg bisa menghalangi. Perusahaan besar tidak bisa selincah UKM dan UMKM, gerbong terlalu berat untuk bisa melangkah cepat.

Sedangkan UKM dan UMKM sudah terbiasa fleksible, kenyang masalah dan selalu bisa temukan ide kreatif meski hanya untuk bertahan. Bahkan ketika krisis ada peluang pasar yg bisa direbut UKM dan UMKM, akan terjadi kekosongan produk. Tetap tidak mudah tapi peluang muncul tentu lebih baik dan harus segera diambil.